PLTU Sijantang Kota Sawahlunto akan tetap mengalami kelangkaan batubara apa bila sistem birokrasi pemasok tidak dibenahi. Seperti yang dialami PLTU Sijantang hingga kemarin, stok untuk pembangkit hanya cukup dua sampai lima hari. Setelah itu mereka terus gali lobang tutup lobang. Sementara Perusahaan yang selama ini terkait kontrak dengan PLTU itu memilih jalan lain, mereka lebih menguntungkan menjual batubara keluar Sawahlunto, umpamannya ke Semen Padang karena dapat dijual dengan harga yang tinggi.
Beda dengan di PLTU Sijantang para pemasok itu baru mendapatkan uang setelah satu sampai dua minggu batubaranya sampai dan, itupun masih menunggu hasil Labor Sukopindo, dengan biaya sampai puluhan juta, belum lagi biaya transportasi yang harus mereka tanggung sejumlah Rp 10 ribu/ton. Begitupun menyangkut kalori batubara tidak boleh kurang dari (6.000 kalori), sebab mesin tersebut dirancang mempergunakan kalori tinggi. Kenyataan yang dialami PLTU Sijantang itu dibenarkan Kepala DinasPerindagkop diwakili Sekretaris H.Gusrial. Menurut Gusrial, sistem birokrasi pembayaran harus diubah, sebab kalau tidak pengusaha akan berpaling mengirim batubara tersebut keluar Sawahlunto, mengingat diluar mereka tidak memikirkan rugi bahkan pengusaha mau membayar muka sebelum batubara diangkut ke stokfile mereka. Jadi kalau PLTU tetap bertahan dengan pola lama, maka kondisi PLTU Sijantang hidupnya tidak akan lama, ”tandas Gusrial.
Ia mengatakan, semestinya PLTU Sijantang cepat menangkap dan mengatasi hal itu, sehingga pengusaha lokal lancar memasok kebutuhan pembangkit. Sekarang saja baru satu unit yang beroperasi sudah kewalahan, apalagi sampai dua unit yang membutuhkan batubara 2.000 ton/hari. Manager PLTU Sijantang R.Ekoriwanto didampingi Asisten Operasionalnya Adil, beberapa hari lalu menjawab Singgalang mengatakan sistem pembayaran batubara yang dilakukan di PLTU Sijantang harus mengacu aturan pusat. ”Kami tidak ada kewenangan merubah, makanya pembayaran batubara tidak secepat keinginan para pemasok. Menyoal batubara yang kena pinalti adalah yang mempunyai kalori kurang dari enam ribu, sebab kalau sampai dipaksakan akan merusak mesin pembangkit yang dampaknya sangat luas terhadap kelistrikan di Sawahlunto dan Sumbar pada umumnya karena kita telah memakai sistim interkoneksi,” tutur Eko.
Read More......
Tampilkan postingan dengan label Di kutip dari Harian Singgalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Di kutip dari Harian Singgalang. Tampilkan semua postingan
6.22.2008
Nasib PLTU Ombilin di ‘Lumbung’ Batubara

KRISIS bahan bakar batubara menjadi persoalan yang terus berlarut-larut di Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU Sektor Ombilin di Sijantang, Kota Sawahlunto. Pembangkit listrik milik PT. PLN berkekuatan dua kali 100 mega watt yang butuh sekitar 600 ribu ton batubara setiap tahunnya. Kini, dihadapkan dengan keterbatasan persediaan batubara. “Batubara Langka, Birokrasi PLTU Sijantang Perlu Dibenahi”. Bahkan, batubara yang tersedia hanya untuk lima hari kedepan. Dengan kebutuhan bahan bakar batubara untuk dua unit sekitar 2.000 ton perhari
Kalau diamati, produksi batubara dari perusahaan pemegang kuasa pertambangan atau KP skala kecil, PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin dan PT. Allied Indo Coal terus berproduksi dan mengalir ke luar Kota Sawahlunto. Bahkan, PLTU Sektor Ombilin juga menjalin kontrak dengan perusahaan pertambangan lokal di Sawahlunto, tapi tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan suplai batubata.
Sudah saatnya, PLTU sektor Ombilin yang berinduk ke PLTU Sumatra Bagian Selatan di Palembang ini, menata niaga batubara-nya. Pihak PLTU Ombilin harus menata harga beli batubara dari perusahaan pertambangan. Misalnya, kalau di kalangan perusahaan penambangan lokal, PLTU Ombilin membeli seharga Rp250 ribu perton, mungkin perlu ditinjau kembali.
Termasuk dalam sistem pembayaran, perlu lebih disempurnakan birokrasinya sehingga antar kedua pihak, perusahaan penambangan dan PLTU Ombilin merasa saling diuntungkan. Dalam prinsip jual beli, tak terlepas dari hukum pasar. Ketika ada yang membeli dengan harga lebih menguntungkan, maka penyuplai akan beralih pasar.
Semestinya, antisipasi ini sudah harus dilakukan PLTU Ombilin dan menjalinkan kerjasama dengan penyuplai yang sudah jelas cadangan batubaranya. Seperti, PT. Allied Indo Coal, PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin dan beberapa perusahaan pemilik KP kecil yang sudah pasti cadangan batubaranya secara terukur.
PLTU Ombilin yang dibangun dengan spesifikasi batubara Sawahlunto yang punya dampak terhadap kelangsung sistem kelistrikan Sumatra, tentunya, tak ingin mati di’lumbung’ batubara.
Read More......
Langganan:
Comment Feed (RSS)

